Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net

Selasa, 23 Februari 2010

Daur Ulang Bangunan Lama di Indonesia


Bangunan lama peninggalan zaman baheula, sebaiknya diapakan? Dirobohkan seperti Gedung Harmonie di Jakarta yang diratakan dengan tanah tahun 1980an dulu atau dipugar dan digunakan untuk tujuan lain?

Tentang metamorfosa gedung-gedung lama itu, rekan Joss Wibisono berbincang-bincang dengan Pauline van Roosmalen, pakar sejarah perencanaan kota yang melakukan penelitian di Indonesia.

Di Indonesia, bangunan lama peninggalan zaman Belanda sekarang sudah tidak lagi dirubuhkan begitu saja. Kecenderungan terbaru adalah merestorasi dan menggunakan bangunan itu untuk kepentingan lain. Restorasi sebuah bangunan lama jelas butuh bukan saja dana, tetapi juga pengetahuan, keahlian bangunan dan ketrampilannya.

Selain itu juga perlu dipikirkan fungsi bangunan yang direstorasi itu. Apa yang akan dilakukan dengan bangunan ini kalau restorasi selesai? Di sini dibutuhkan imajinasi, inspirasi dan ide yang cerdas cemerlang supaya bangunan lama itu tetap hidup dan tidak dilupakan orang.

Nah, soal daur ulang bangunan lama peninggalan zaman Belanda itu, Pauline van Roosmalen datang dengan usul supaya tidak lagi-lagi menggunakannya sebagai museum. Masih banyak fungsi lain bagi bangunan lama dari sekedar museum. Bangunan lama yang dipugar bisa digunakan sebagai pasar swalayan, sekolah, rumah makan, hotel dan seterusnya. Pendek kata tidak lagi-lagi sebagai museum saja.


Hidup lama


Pada dasarnya Pauline van Roosmalen mengkritik penggunaan gedung-gedung lama di Indonesia. Masalahnya gedung-gedung itu kebanyakan hanya digunakan sebagai museum, bukan sebagai gedung yang bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Mengapa kritik itu dilontarkan?

Pauline van Roosmalen [PvR]: Karena menurut saya, paling penting kalau bangunan-bangunan lama masih hidup lama juga. Berarti harus selalu dicari fungsi untuk masa depan. Nah, untuk itu paling penting harus ada uang. Untuk bisa memperoleh uang mana bisa orang hanya bikin museum atau galeri? Dari situ hampir tidak bisa diperoleh uang.

Itu sama dengan Belanda. Di Belanda ada banyak museum, tetapi di Belanda ada subsidi, subsidi dari pemerintah. Dan saya tahu di Indonesia, subsidi ini tidak ada, atau kecil sekali. Sebab itu menurut saya, pemilik bangunan-bangunan lama di Indonesia harus berfikir dulu sebelum mereka berfikir oh ya, saya mau bikin museum. Saya senang ya kalau ada museum. Tapi saya takut juga bahwa satu, dua, tiga tahun dari sekarang uangnya tidak ada. Nah, apa yang akan terjadi kalau uang kosong?

Bangunan itu selalu makan biaya pemeliharaan. Itu penting. Kalau di dalam bahasa Inggris disebut economic sustainability, kesinambungan ekonomi. Itu penting juga. Karena bangunan lama, saya tahu, kuat sekali. Tembok besar, atap bagus, fondasi bagus. Jadi, bangunannya sendiri bukan masalah sulit. Yang sulit adalah apa yang harus terjadi di dalamnya. Kalau hanya museum, saya takut nanti tidak ada cukup uang. Karena itu saya menulis tentang Bank Indonesia di Jakarta, misalnya.

Kenapa mereka bikin museum lagi? Kenapa misalnya tidak bikin sekolah, karena gedung ini sangat dekat di stasiun. Dan sekarang ada terminal busway, jadi gampang sekali buat anak-anak. Dan kalau ada anak-anak di sana, mereka harus bermain, bisa bermain di dalam, mereka perlu alat-alat tulis. Bisa mungkin beli di gedung itu. Sehingga nanti, daerah itu hidup lagi. Karena sekarang, menurut saya ya, daerah ini hampir mati ya. Hanya ada lalu lintas. Hanya ada orang mau dari A ke B, hanya ada transfer zone, bukan tempat tinggal.


Takut jadi hotel

Radio Nederland [RNW]: Bagaimana menurut anda nasib bangunan-bangunan lama di Indonesia, apakah ada bangunan lama yang digunakan lagi untuk hal-hal yang baru?

PvR: Ya, ada. Ada beberapa, tapi mungkin ada yang kecil. Saya baru kembali dari Indonesia. Saya di Solo menginap di Heritage Hotel. Ini dulu adalah rumah biasa. Pemiliknya punya bisnis batik. Nah, rumah ini sekarang diubah menjadi hotel, hotel kecil. Tidak banyak perubahan, karena dulu semua yang kerja di sini tinggal di persil ini juga. Jadi dekat rumah. Nah, ini rumah-rumah kecil, sekarang ada kamar hotel.

Tetapi saya takut juga nanti semua rumah lama akan menjadi hotel. Jadi menurut saya perlu fantasi untuk memikirkan fungsi baru yang cocok dengan gedungnya. Berarti tidak semua bangunan bisa jadi museum atau hotel. Mungkin misalnya bisa bikin supermarket.

Misalnya saya pernah bicara sama teman saya tentang kantor imigrasi Jakarta yang dulu di Menteng. Sekarang di sana ada galeri atau klub, namanya Budha Bar. Tapi saya bilang, oke bar mungkin ada banyak orang mau datang, jadi ya sudah. Tapi kalau cari fungsi yang baru mungkin bisa mencoba bisa bikin pasar swalayan di sana, yang mungkin eksklusif, tapi ada fungsi baru. Menurut saya cocok dengan gedung ini, kalau semua lemari dengan barang-barang tidak ada di tembok. Tapi harus berpikir juga tentang desain interior.


Buas dari awal

Jadi harus berpikir bebas. Mungkin terlalu buas dari awal. Sehingga akhirnya ada konsep sesuai dengan bangunan dan fungsi dan semua yang diperlukan buat masa depan. Misalnya penting juga tempat parkir. Bagaimana kalau ada ide, itu sesuai dengan daerah atau tidak. Kalau ada banyak mobil nanti di mana mereka harus parkir?

RNW: Kalau boleh saya ambil contoh, di kota kelahiran saya di Malang, gedung NIROM, RRI dulu, sekarang sudah menjadi hotel dan gayanya dikembalikan ke zaman bangunan model aslinya. Jadi menurut anda ini harus lebih ke komersi?

PvR: Enggak usah juga. Saya berpikir misalnya di Belanda ada banyak orang bikin bisnis, tapi hanya kerja sendiri. Mereka kadang-kadang perlu kantor juga. Nah, di Belanda ada gereja yang diubah jadi kantor. Perkantoran di dalam gereja. Kecil-kecil. Saya pikir gagasan ini bisa diterapkan di Indonesia. Ada banyak orang yang perlu kantor, tapi kantor kecil. Jadi kalau misalnya Bank Indonesia di Kota Jakarta itu, saya pikir bangunan ini pas dengan fungsi ini. Karena dulu ada banyak kantor, di gang. Jadi fungsi sama dengan bangunan lama, cocok.

RNW: Kalau begitu, selain ide, apa menurut ada yang kurang di Indonesia bagi penggunaan bangunan-bangunan lama ini?


Kurang fantasi

PvR: Ya mungkin kurang fantasi dan keberanian. Coba aja. Bisa mulai di kertas ya. Bikin sketsa dulu. Tapi mulai berpikir bebas, dengan fantasi banyak sekali. Semua tahu bahwa dari awal selalu tidak akan dibangun. Tetapi coba aja. Jangan takut bahwa nanti ada sesuatu yang baru di dalam gedung lama. Di Eropa, di Amerika Serikat, ada banyak contoh bangunan lama yang sekarang memperoleh fungsi baru. Atau misalnya masih fungsi yang lama.

Misalnya ada satu museum di London. Di Belanda juga ada. Sekarang ada trap, tapi trap baru, dari kiri ke kanan. Baru. Tapi trap ini tidak terlalu mengganggu bangunan. Jadi jangan takut bikin dan masuk sesuatu yang baru. Saya suka rekonstruksi, yang ada dulu. Tapi itu sudah konsep sangat susah. Apa yang ada dulu. Dan kalau mau dipakai gedung sekarang, apa yang perlu dan bikin satu kompleks tapi kompleks yang cantik terpadu. Bisa dengan yang lama dan dengan yang tua.

Demikian bagian pertama wawancara dengan Pauline van Roosmalen. Bagian kedua bincang-bincang dengan pakar sejarah perencanaan kota ini berkisar pada pengaruh besar Amerika dalam dunia arsitektur Indonesia.

(ranesi.nl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kontak